Apa itu eksistensialisme?
- Aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yg khas di tengah makhluk lainnya.
- Etimologis: ex= keluar, sistentia (sistere)=berdiri. Manusia bereksistensi = manusia baru menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari dirinya.
- Pusat diriku terletak di luar diriku. Ia menemukan pribadinya dg seolah-seolah keluar dari dirinya sendiri dan menyibukkan diri dengan apa yang diluar dirinya.
- Hanya manusialah bereksistensi. Eksistensi tidak bisa disamakan dengan ‘berada’. Pohon, anjing berada, tapi tidak berseksistensi.
- filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkrit, manusia sebagai eksistensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi.
Ciri-ciri eksitensialisme
- Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.
- Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, merencanakan.
- Manusia dipandang terbuka, belum selesai. Manusia terikat pd dunia sekitarnya, khususnya pada sesamanya.
- Memberi penekanan pada pengalaman konkrit.
Pokok ajaran kinkegaard
- Kritik terhadap Hegel: Kierkegaard memandang Hegel sebagai pemikir besar, tapi satu hal yang dilupakan Hegel – menurut Kierkegaard – adalah eksistensi menusia individual dan konkret. Manusia tidak dapat dibicarakan ‘pada umumnya’ atau ‘menurut hakekatnya’, karna manusia pada umumnya tidak ada.
- Eksistensi berarti bagi Kierkegaard: merealisir diri, mengikat diri dengan bebas, dan mempraktekkan keyakinannya dan mengisi kebebasannya.
- Ada tiga cara bereksistensi: tiga sikap thdp hidup, yaitu:
- Sikap estetis: Merengguh sebanyak mungkin kenikmatan, yang dikuasai oleh perasaan. Cara hidup yg amat bebas. Manusia hrs memilih hidup terus dengan kenikmatan atau meloncat ke tingkat lebih tinggi lewat pilihan bebas.
- Sikap etis: Sikap menerima kaidah2 moral, suara hati dan memberi arah pada hidupnya. Ciri khasnya menerima ikatan perkawinan. Manusia sudah mengakui kelemahannya, tapi belum melihat cara mengatasinya. Bila ia mengakui butuh pertolongan dari atas, maka ia loncat ke sikap hidup religius.
- Sikap religius: Berhadapan dengan Tuhan, manusia sendirian. Karna manusia religius percaya pada Allah, maka Allah memperlihatkan diriNya pada manusia. Percaya model A ialah Allah hadir dimana-mana. Yang sukar adalah percaya model B: percaya bahwa Allah menerima wajah manusiawi dalam Yesus agar bisa berjumpa dengan Dia. Kita percaya model B, bila kita percaya bahwa kita yang lahir dalam waktu bisa menjadi abadi. Kita bisa menjadi seperti yang kita percayai.
Subyektivitas dan eksistensi sbg tugas
Eksistensi manusia adalah tugas, yang harus dijalani dengan kesejatian sehingga orang tidak tampil dengan semu. Bila eksistensi suatu tugas, ia harus dihayati sebagai suatu yang etis dan religius. Eksistensi sebagai tugas disertai oleh tanggungjawab.
Publik dan individu
Pendapat umum kerap didukung oleh khalayak ramai yg anonim belaka. Publik bagi Kierkegaard hanya abstraksi belaka, bukan realitas. Publik menjadi berbahaya bila itu dianggap nyata.
EKSISTENSIALISME MENURUT SARTRE
Pemikiran filsafat sartre
- Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sabagai dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yang tidak punya kesadaran.
- Untuk manusia eksistensi adalah keterbukaan, beda dengan benda lain yang keberadaannya sekaligus berarti esensinya. Bagi manusia eksistensi mendahului esensi.
- Tanggungjawab yang menjadi beban kita jauh lebih besar dari sekedar tanggungjawab terhadap diri kita sendiri.
- Tuhan tidak bisa dimintai tanggungjawab . Tuhan tidak terlibat dalam putusan yg diambil oleh manusia. Manusia adalah kebebasan, dan hanya sebagai makhluk yang bebas dia bertanggungjawab.
- Tanpa kebebasan eksistensi manusia menjadi absurd. Bila kebebasannya ditiadakan, maka manusia hanya sekedar esensi belaka.
Kebutuhan manusia
- Dalam eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelama sebagai wujud yang bertubuh. Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia.
- Tubuh sebagai pusat orientasi tidak bisa dipandang sebagai alat sematamata,tapi mengukuhkan kehadiran kita sebagai eksistensi.
Komunikasi dan cinta
- Komunikasi : suatu hal yang apriori tak mungkin tanpa adanya sengketa, karna setiap kali orang menemui orang lain pada akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yg seorg seolah2-seolah membekukan orang lain. Terjadi saling pembekuan sehigga masing-masing jadi objek.
- Cinta = bentuk hubungan keinginan saling memiliki (objek cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa karna objektifikasi yang tak terhindarkan.
Sumber : Mata kuliah KBK Filsafat oleh Bpk. Dr Raja Oloan Tumanggor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar